Selasa, 07 Agustus 2012

Candi Prambanan

Sejarah
Candi Prambanan dibangun oleh Dinasti Sanjaya di abad ke-9, ditemukan tulisan nama Pikatan pada Candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti Brangka tahun 856 M terdapat pada Prasasti Siwagrha. Candi Prambanan terdiri atas 3 kompleks bangunan. Candi utama memiliki 3 tempat pemujaan (altar) yang didedikasikan untuk Dewa Trimurti. Candi Siwa terletak di tengah, Wisnu di sebelah selatan, dan Candi Brahma di sebelah utara. 
Disebut Candi Siwa, karena di dalam bilik candi utamanya terdapat patung Dewa Siwa. Demikian pula pada Candi Brahma dan Wisnu, dimana di masing-masing candi terdapat patung Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Ketiganya menghadap ke arah timur, di depan setiap candi berdiri candi-candi lain yang lebih kecil, yang disebut dengan Candi Wahana, yang masing-masing menghadap ke arah barat. Dinamakan Candi Wahana karena di dalam bilik candi-candi ini terdapat patung binatang yang biasa dipakai sebagai tunggangan/ kendaraan atau wahana dari dewa-dewa tersebut.  

Kondisi Geografis        


Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 7°30' - 8°15' lintang selatan dan 110°00' - 110°52' bujur timur,  merupa­kan wilayah daratan yang berbatasan di sebelah utara dengan Propinsi Jawa Tengah, di sebelah timur dengan Propinsi Jawa Tengah, di sebelah selatan dengan Samudra Indonesia, dan di sebelah barat dengan Propinsi Jawa Tengah.
Candi Prambanan terletak 13 Km dari kota Klaten, menuju barat pada jalur jalan ke Yogyakarta dan 17 Km dari Yogya menuju timur pada jalur jalan ke kota Klaten/Surakarta, Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah candi Hindu terbesar di Jawa Tengah. Secara administratif kompleks candi ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat menyebut candi ini dengan nama candi Larajonggr.                                                                                                                 Kondisi Demografis
Jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah adalah 32.380.687 jiwa terdiri atas 16.081.140 laki-laki dan 16.299.547 perempuan. Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Brebes (1,732 juta jiwa), Kabupaten Cilacap (1,644 juta jiwa), dan Kabupaten Banyumas (1,553 juta jiwa).
Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat budaya Jawa, di mana di Kota Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat istana Kerajaan Jawa yang masih berdiri hingga kini. Suku minoritas yang cukup signifikan adalah Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya mereka bergerak di bidang perdagangan dan jasa.
Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan. Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah dikenal dengan sikap tolerannya.                                                 Kondisi Budaya
Dahulu sebelum Candi Prambanan dijadikan sebagai kawasan pariwisata oleh pemerintah Klaten, banyak masyarakat yang bermukim tidak jauh dari Candi Prambanan berada. Namun setelah Pemerintah Klaten melakukan pemugaran Candi Prambanan untuk dijadikan sebagai tempat pariwisata pada tahun 1983-1984 maka lima desa masyarakat sekitar itu pun dipindahkan ke pemukiman Pemukti Baru yang dibangun pemerintah tidak jauh dari Candi Prambanan, atau biasa kita sebut dengan istilah bedol deso. Masyarakat mau menerima tawaran pemugaran tersebut dikarenakan biaya ganti rugi tanah masyarakat oleh pemerintah dianggap lebih dari cukup dan menguntungkan. Dari relokasi tempat tinggal tersebut maka mucullah beberapa perubahan-perubahan sosial masyarakat sekitar Candi Prambanan, antara lain yaitu mata pencaharian masyarakat yang tadinya mayoritas petani  lugu (petani biasa) sekarang berubah menjadi pedagang, baik itu pedagang cinderamata berupa baju batik, aksesoris ataupun hasil kesenian lain dari masyarakat sekitar Candi Prambanan, guru,  pegawai yang mengelola wisata candi pramban an, semisal pegawai dipembayaran loket masuk, petugas parkir, petugas kebersihan dan lain-lain, ataupun pegawai di hotel-hotel sekitar Candi Prambanan  yang didirikan oleh masyarakat luar daerah pemukiman pemukti baru, dan sebagainya. Adapun perubahan budaya yang dialami masyarakat karena adanya pemugaran tersebut tidak lah terlalu basar dampaknya. Budaya yang sudah ada seperti kesenian ; karawitan, wayangan, dan kuda lumping, religi/keagamaan ; pengajian masih tetap terjaga dengan baik. Pengajian di pemukiman pemukti baru biasanya diadakan tiga kali dalam sepekan. Hari rabu pengajian untuk bapak-bapak, kamis untuk ibu-ibu, dan sabtu untuk pemuda-pemudanya. Sedangkan pada malam minggu pada 35 hari kliwon di pemukiman pemukti baru biasanya diadakan wayangan. Dan meskipun mayoritas masyarakat sekitar Candi Prambanan beragama islam, namun Candi Prambanan tersebut masih digunakan untuk beribadah masyarakat luar.                                                                                                                                                      Hasil Pengamatan dan penelitian
Menurut sumber seorang pemandu wisata yang bernama Bapak Harto (wawancara 23 Juli 2012) telah menjadi guide selama 20 Tahun. Candi Prambanan selesai dibangun sekitar 856 M, Candi ini diresmikan oleh Raja Ratininggrat atau Rakai Pikatan pada tahun 778 Saka yang bernama Siwa Graha. Candi Prambanan merupakan replika Mahameru terdapat dewa-dewa delapan penjuru arah mata angin. Nama awal Candi Prambanan adalah Siwagrha karena pada Candi ini adalah mengagungkan Dewa Siwa, kemudian  karena banyak para pendeta yang dattang ke candi ini untuk melakukan pemujaan maka dinamakanlah Candi Prambanan, kata Prambanan berasal dari kata Para yang artinya banyak dan Brahmana artinya Pendeta, jadi Prambanan artinya banyak pendeta yang datang berkunjung.
Letak tata bangunan
Pada Candi Prambanan terdapat empat (4) pintu masuk. Setiap pintu terdapat patung (aling-aling) yang berfungsi sebagai penjaga. Pada Candi Prambanan terdapat tiga candi utama yaitu Candi Brahma, Candi Siwa, dan candi visnu, dan di depan masing-masing candi terdapat candi kendaraan dari masing-masing Dewa, yaitu Candi Angsa, Candi Nandi, dan Candi Garuda. Pada setiap sudut terdapat Candi Apit dan di pintu masuk kiri dan kanan terdapat Candi Kelir, yang berfungsi sebagai penolak bala.  Pada dinding Candi Brahma terpahat relief cerita Ramayana yang berputar searah jarum jam dan kemudian dilanjutkan pada Candi Siwa hingga cerita Ramayana berakhir. Sedangkan pada Candi Visnu terpahat relief cerita Kresna sebagai Avatara Visnu.
Pada Candi Prambanan tidak terdapat pantangan yang paten dimana untuk memasuki areal Candi Prambanan tidak terdapat aturan khusus bagi para pengunjung karena candi ini merupakan tempat pariwisata, namun terdapat aturan bagi yang mempercayainya yaitu dilarang masuk bagi yang haid atau cuntaka. Di Candi Prambanan sampai saat ini, masih terdapat pelaksanaan ritual keagamaan yaitu satu hari sebelum perayaan Hari Nyepi yaitu disebut dengan tawur kesanga. Pada pelaksanaan upacara ini etika berpakaiannya sebagian besar menggunakan adat Jawa, bila ada media yang hendak meliput kegiatan ini diberikan batasan wilayah agar tidak mengganggu jalannya upacara.
Masyarakat sekitar Candi Prambanan tidak terdapat penduduk yang beragama Hindu sehingga Candi Prambanan dirawat oleh umat muslim yang ada di sekitar Candi Prambanan. Menurut bapak Harto (wawancara 23 Juli 2012)  umat Hindu Jawa meninggalkan prambanan dikarenakan terjadinya bencana alam yaitu meletusnya gunung berapi pada tahun 1006. Pada saat itu Candi Prambanan hancur dan umat Hindu pergi ke Jawa Timur dan Bali. Untuk dibidang ekonomi keberadaan Candi Prambanan sangat membantu untuk pengadaan lapangan kerja misalnya guide, pedagang dan pekerja lainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar