OM SWASTIASTU
OM AWIGHNAMASTU YA NAMAH SIDHAM
OM ANUBADRAH KERTAWO YANTU WISWATAH
Yang terhormat Para Dewn juri
Serta Umat Sedharma yang berbahagia
Sebagai umat beragama yang memiliki sradha dan bhakti patutlah kita menghaturkan angayubagia kehadapan IDA SANG HYANG WIDHI WASA, karena atas asung kerta waranugrahaNYAlah sehingga kita bisa berkumpul bersama – sama ditempat ini dalam keadaan sehat selalu guna menyampaikan dan mendengarkan pesan dhrama.
Umat Sedharma yang berbahagia
Berbagai macam kejadian dan peristiwa yang terjadi disekitar kita yang banyak menimbulkan kerugian dan memakan korban jiwa seperti bencana alam yang baru saja terjadi yaitu tsunami, letusan gunung merapi, banjir, kasus ilegal loging yang mengakibatkan pemanasan global, wabah penyakit yang datang silih berganti seperti demam berdarah, HIV/AIDS dan penyakit lainnya. Dari fenomena yang terjadi maka pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pesan dharma yang berjudul “IBU PERTIWI MENANGIS”
Umat Sedharma yang berbahagia
Dalam kehidupan ini kita pasti mengharapkan sebuah kedamaian dan kebahagiaan, namun semua itu sulit untuk kita dapatkan karena manusia memiliki sifat yang berbeda-beda, untuk menyatukan pikiran sangatlah sulit kita membutuhkan pedoman atau sumber sebagai pegangan dan menyatukan persepsi dalam melangkah sehingga kebahagiaan itu dapat kita capai. Sebenarnya kita telah memiliki pegangan untuk mencapai kebahagiaan itu dimana dalam ajaran agama hindu diajarkan TRI HITA KARANA. Tentu akan timbul pertanyaan apa tri hita karana itu ? apa hubungannya dengan kehidupan kita ? mengapa kita menggunakan tri hita karana untuk mencapai kebahagiaan ? dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Tri hita karana adalah tiga penyebab kebahagiaan, tri hita karana ini erat kaitannya dengan kasih sayang namun bukan hanya rasa sayang tetapi juga rasa peduli, rasa memiliki, rasa tanggung jawab dan juga rasa berpartisipasi, secara harfiah tampaknya sangat mudah untuk dikatakan tetapi susah untuk dilaksanakan. Bagaimana kita akan berpartisipasi apalagi untuk bertanggung jawab bila rasa memiliki tidak ada pada diri kita.
Selanjutnya, bagaimana kita akan membangkitkan rasa memiliki kalau kita tidak mengenal terlebih dahulu apa yang ingin kita miliki. Dengan mengenal terlebih dahulu maka kita akan sampai pada rasa sayang / cinta seperti pepatah mengatakan “Tak Kenal maka Tak Sayang” maka dari itu tri hita karana ini sangat berkaitan dalam kehidupan kita, adapun bagian dari tri hita karana yaitu :
1. Parahyangan : Hubungan antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi, disini kita dituntut untuk menjaga keharmonisan kita dengan Ida Sang Hyang Widhi, dengan cara melaksanakan persembahyangan dan selalu bersyukur dengan apa yang telah beliu berikan kepada kita, namun faktanya manusia sekarang ini tidak pernah merasa puas dan tidak pernah bersyukur, contohnya seorang pejabat tinggi yang telah memiliki harta benda dan kedudukan tidak pernah merasa puas, mereka menginginkan yang lebih lagi sehingga melakukan perbuatan yang melanggar dharma yaitu korupsi yang mengambil hak orang lain, selain itu kita hendaknya mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan cara salah satunya yaitu sembahyang, namun masih ada umat kita yang awam terhadap hal ini dimana saya menemukan sebuah desa yang umatnya sangat sedikit melaksanakan persembahyangan pada hari – hari yang kita sucikan.
Umat Sedharma yang berbahagia dan Dewan Juri yang saya hormati
Penbagian yang kedua yaitu:
2. Pawongan : Hubungan antara manusia dengan manusia, dimana dalam hubungan ini kita hendaknya saling menghargai antar sesama, menolong, dan menjalin komunikasi yang baik, karena perkataan dapat membawa kita pada kebahagiaan namun perkataan juga dapat membawa kita pada kehancuran. Kita manusia memiliki kodrat sebagai mahluk sosial ini artinya dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang lain, seperti halnya sebuah gunung, gunung ini tidak akan dapat berdiri kokoh dan besar seperti yang kita lihat tanpa bantuan hal-hal yang kecil yaitu tanah, pasir, krikil dan batu, begitu pula kita tidak akan mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Maka janganlah kita merasa besar setelah mendapatkan kebahagian material, sadarilah kita seperti ini karena bantuan mereka pula.
3. Palemahan : Hubunga antara manusia dengan alam, tempat kita hidup adalah alam, kita sebagai manusia miliki kodrat sebagai mahluk alam mengapa demikian karena sepanjang hidup kita bergantung pada kekuatan alam yaitu udara, angin, air, tanah, api, matahari, tumbuhan dan binatang, tanpa semua ini manusia tidak akan dapat bertahan hidup, kita sebagai manusia yang diberikan pikiran hendaknya menjaga dan melesatarikan alam. Namun manusia menyalah gunakan pikiran dimana manusia merusak alam yang dapat merugikan manusia itu sendiri, contohnya membuang sampah pada aliran air, memang secara logis sampah tersebut akan terbawa olah air, namun akibatnya merugikan kita, seperti terjadi banjir. Bukankah menjaga alam itu akan membuat kita nyaman berada dilingkungan kita, seperti bunyi selogan yaitu bersih pangkal sehat, namun faktanya berbagai wabah penyakit melanda manusia ini semua karena kita yang tidak menjaga kebersihan lingkungan atau alam kita.
Umat sedharma yang berbahagia
Didalam Veda di jelaskan orang yang terkasih adalah orang yang tidak mengganggu dunia ini. Seperti yang terdapat dalam Bhagawad gita XII, 15 yang berbunyi :
Yasman nodvijate loko
Lokan nodvijate ca yah
Harsamarsa-bhayodvegair
Mukto yah sa ca me priyah
Artinya :
Dia yang oleh siapa dunia ini tak diganggu dan tak mengganggu dunia ini
Yang bebas dari kesenangan, kemarahan, ketakutan dan kebingungan,
dia inilah yang terkasih.
Dari sloka ini menegaskan bahwa kita janganlah mengganggu dunia ini dan bebaskan diri kita dari kesenangan yang berhura – hura, emosi dan kebodohan yang menyebabkan kebingungan, orang yang telah terlepas dari semua ini dialah yang terkasih yang akan menemukan kebahagiaan dan kedamaiaan dalam hidupnya.
Umat Sedharma yang berbahagia dan Dewan Juri yang saya hormati
Dapat saya simpulkan bahwa kehidupan kita ini saling ketergantungan antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Jika kita menginginkan kebahagiaan dan kedamaian maka terapkanlah ajaran Tri Hita Karana ini. Sesuai dengan judul yang saya ambil yaitu Ibu Pertiwi Menangis, mengapa saya mengatakan demikian ? Ibu pertiwi adalah bumi yang kita pijak, di bumi ini terjadi kejadian dan perbuatan manusia yang melanggar dharma, ini lah yang menyebabkan ibu pertiwi beduka, kita sebagai anaknya telah melakukan perbuatan yang tidak diinginkan oleh ibu, kita sebagai anak hendaknya menjaga dan melindungi ibu, namun kita sekarang menjadi anak durhaka maka ibu mengutuk dan marah terhadap kita, kemarahan ibu dapat kita lihat dari bencana alam yang terjadi disekitar kita.
Umat Sedharma yang berbahagia
Maka melalui kesempatan ini saya ingin mengajak umat semua untuk merenungkan apa yang telah kita lakukan dan mari kita perbaiki pebuatan kita yang telah membuat ibu pertiwi marah terhadap kita. Kita semua adalah ciptaan Ida Sang Hyang Wdhi maka ajaran TAT TWAM ASI hendaknya diterapkan yaitu kamu adalah aku dan aku adalah kamu tapi jangan sampai suamiku adalah suamimu atau istriku adalah istrimu. Belum ada kata terlambat untuk berubah selagi kita benar – benar ingin berubah demi untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaiaan dalam hidup ini. Yakinlah dengan terjalinnya hubungan yang harmonis antara kita dengan Ida Sang Hyang Widhi, kita dengan sesama dan kita dengan alam, maka tujuan kita akan tercapai yaitu Moksartham Jagadhitaya Ca Iti Dharma.
Umat Sedharma yang berbahagia
Demikianlah Dharma Wecana yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, mengingat waktu yang membatasi kita maka saya akhiri dharma wecana ini dengan paramesanti.
OM SANTHI SANTHI SANTHI OM
Terimakasih, semoga siapa saja yang sudah membaca akan merenungi dan mengingat serta menoleh kebelakang bahwa jalan yang telah dilewati tidak keluar jalur.
BalasHapusMantap
BalasHapus