Senin, 14 November 2011

ARTI BANTEN


Arti ‘Banten’ Dalam Upacara Yadnya
Sehananing Bebanten pinaka raganta tuwi.
pinaka warna rupaning Ida Bhatara
pinaka Andha Buwana.
(Dikutip dari: Lontar Yadnya Prakerti).
Artinya:

Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang aneka kemahakuasaan Tuhan dan lambang Bhuwana Agung.
DALAM kitab Upadesa dinyatakan, ada tiga kerangka agama Hindu yaitu Tattwa, Susila dan Upacara Yadnya. Tiga kerangka itu diumpamakan bagaikan sebutir telur. Tattwa ibarat kuning telur, Susila agama bagaikan putih telur. Upacara Yadnya bagaikan kulit telur. Meskipun upacara agama itu sebagai kulit telur namun telur tanpa kulitnya tentunya hal itu bukan telur namanya. Namun kewajiban kulit telur melindungi kuning dan putih telur tersebut. Upacara yadnya itu salah satu wujudnya adalah dengan banten. Jadinya banten itu adalah simbol sakral untuk memancarkan isi Tattwa dan Susila.
Jangan sampai banten itu bertentangan dengan Tattwa dan Susila agama. Dalam Lontar Yadnya Prakerti lebih lanjut dinyatakan bahwa:
reringgitan tetuwasan pinaka kelanggengan kayunta meyadnya, sekare pinaka keheningan kayunta, plawa pinaka peh pekayunan suci.
Artinya:
Tetuwasan dan reringgitan (ukir-ukiran) lambang ketetapan hati melakukan yadnya, bunga lambang kesucian pikiran dan plawa lambang pengembangan pikiran yang suci.

Dalam kutipan salinan Lontar Yadnya Prakerti bahwa simbol banten bentuknya sangat lokal, namun di dalamnya terkemas nilai-nilai yang universal global. Karena itu, banten tersebut dalam pengamalannya
tidak cukup berhenti direalisasikan dalam wujud ritual semata.
Nilai-nilai filosofi Hindu yang terkemas di dalamnya harus diaplikasikan lebih lanjut dalam kehidupan individual dan sosial yang lebih nyata. Dengan demikian, nilai-nilai Hindu yang terkemas dalam banten itu secara nyata dapat melahirkan transformasi individual dan sosial ke arah yang diamanatkan dalam banten tersebut.

Misalnya pada banten itu ada reringgitan dan tetuwasan yang melambangkan ketetapan hati atau kelanggengan. Hal ini seyogianya dimaknai sebagai wujud ketahanan diri menghadapi berbagai bentuk
godaan dalam kehidupan individual dan kehidupan sosial. Kalau kegiatan beragama tidak membawa perubahan diri dan perubahan sosial ke arah yang lebih baik, itu artinya kita belum berhasil memaknai nilai-nilai suci yang terkemas dalam banten.

Banten menggunakan berbagai jenis bunga. Tujuan penggunaan bunga simbol kesucian dan ketulusan melakukan yadnya. Pengertian yadnya itu sangat luas. Orang yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang ekonomi janganlah hidup dengan memamerkan kemewahan.
Kalau ada orang yang hidup berlebihan tentunya akan ada orang yang hidup kekurangan. Meskipun mereka melangsungkan upacara yang mewah, hal itu tidak akan ada artinya dari sudut pandang agama Hindu. Karena itu, penggunaan bunga dalam banten agar dimaknai sebagai simbol untuk mengingatkan kita untuk secara tulus ikhlas menolong mereka yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan swadharma kita masing-masing.
Ada banten yang melambangkan diri kita (pinaka raganta tuwi). Misalnya Banten Peras. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai berikut, peras ngarania prasida Tri Guna sakti. Artinya Banten Peras itu adalah
lambang sukses (prasida) dengan menguatkan Tri Guna. Tri Guna yang kuat dalam artian positif adalah Tri Guna yang berposisi proporsional ideal.

Dalam kitab Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan keadaan Tri Guna yang berposisi ideal. Tri Guna yang ideal itu apabila Guna Sattwam dan Guna Rajah sama-sama kuat dalam diri seseorang maka Guna Sattwam mendorong orang berkeinginan melakukan Dharma. Sementara Guna Rajah yang menyebabkan orang melakukan perbuatan Dharma itu secara nyata. Hal itu yang akan mengantarkan Atman masuk sorga.
Untuk itu, natab banten peras seyogianya diartikan sebagai suatu dorongan dan peringatan agar kita senantiasa mengendalikan Tri Guna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau Tri Guna itu dikendalikan dengan
baik, justru Tri Guna itu sebagai modal spiritual yang sangat potensial melahirkan perilaku yang mulia dan sikap mental yang tangguh. Demikian juga banten penyeneng.

Menurut puja penganternya penyeneng, itu merupakan lambang kehidupan yang seimbang. Nyeneng antara kehidupan rohani dan duniawi (kaki penyeneng, nini penyeneng). Hidup yang seimbang adalah hidup yang
menciptakan sesuatu yang patut diciptakan, memelihara sesuatu yang patut dipelihara. Dan, meniadakan sesuatu yang sudah patut di-pralina.

Dalam puja banten penyeneng dinyatakan pemujaan kepada Hyang Tri Murti, yaitu dengan puja penganter, ‘kejenganing dening Brahma, WisnuIswara’.

MANAJEMEN PENDIDIKAN


KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

            Sekolah yang efektif, bermutu dan favorit tidak lepas dari peran seorang kepala sekolahnya,, pada umumnya sekolah tersebut dipimpin oleh kepala sekolah yang efektif bila asumsi kita ini betul artinya asumsi yang didasarkan atas perhitungan statistik, bahwa hamper lebih kurang sekitar 70 % sekolah yang efektif dipimpin oleh seorang kepala sekolah, maka benarlah apa yang diduga banyak orang bahwa keberhasilan sesuatu organisasi dalam mencapai tujuannya lebih banyak ditentukan oleh pemimpinnya. Seorang pemimpin yang berhasil adalah mereka yang sadar akan kekuatannya yang paling relevan dengan perilakunya pada waktu tertentu, dia benar – benar memahami dirinya sendiri sebagai individu dan kelompok serta lingkungan social dimana mereka berada.

A.    KEPEMIMPINAN PANCASILA
Kepemimpinan pada khususnya dan kepemimpinan Indonesia pada umumnya dipedomani oleh pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu pancasila. Kita dituntut untuk melestarikan kepemimpinan sesuai dengan  lingkungan hidup, masyarakat Indonesia dan tidak mengabaikan lingkungan masyarakat di dunia oleh bangsa Indonesia pada era globalisasi.
Asas, Ciri, Sifat, Sikap, Etika, dan persyaratan kepemimpinan pancasila.
  1. Asas kepemimpinan pancasila
-          Kekeluargaan dan kegotong royongan
-          Kesatuan dan Persatuan dalam kebhinekaan
-          Kebersamaan
-          Selaras, Serasi dan seimbang
  1. Ciri Kepemimpinan pancasila
-          Pemimpin dan yang dipimpin merupakan kesatuan organic dan tidak terpisahkan.
-          Pemimpin dan yang dipimpin bukan unsure yang saling bertentangan
-          Masing – masing unsure yang terlibat dalam kegiatan mempunyai kedudukan dan kewajiban hidup
-          Dalam memecahkan permasalahan dilakukan dengan musyawarah yang diliputi oleh semangat kebersamaan
-          Tata hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin dilandasi oleh rasa kasih saying dan pengabdian
-          Suasana kehidupan yang harmonis tidak menghendaki sikap mencari menang sendiri dan kekuatan atau timbulnya kontrakdisi, pertentangan dan paksaan.
  1. Sifat kepemimpinan pancasila
-          Berorientasi jauh kedepan
-          Berlandaskan pola pikir ilmiah
-          Berpegang pada prinsip efisien dan efektivitas
  1. Sikap kepemimpinan pancasila
-          Sikap dasar atau sikap jiwa yang selalu menjunjung tinggi nilai moral pancasila seperti tercantum dalam eka prasetya, panca karsa secara bulat dan utuh
-          Sikap dal tingkah laku, sikap yang muncul dari sikap dasar yang menjadi penggerak perilaku
-          Sikap dalam bertindak yaitu sikap yang terjadi dalam gerak kegiatan memimpin
  1. Etika kepemimpinan pancasila
Etika kepemimpinan pancasila adalah suatu keindahan atau peraturan tidak tertulis yang harus dipahami oleh seseorang pemimpin agar dapat menjalankan funginya dengan baik dilandasi kesadaran, keikhlasan dan kesungguhan dan menentukan kritria.

B.     KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Kepemimpinan pendidikan memerlukan perhatian yang utama karena melalui kepemimpinan yang baik kita harapkan, lahirnya tenaga – tenaga yang berkualitas dalam dalam berbagai bidang sebagai pemikir, pekerja yang terpenting bahwa melalui pendidikan kita menyiapkan tenaga – tenaga yang berkualitas, tenaga yang siap latih dan siap pakai memenuhi kebutuhan masyarakat bisnis dan industri, serta masyarakat lainnya. Tersedianya sumber daya yang berkualitas adalah dari pendidikan kita, disamping terciptanya warga Negara yang sesuai dengan tuntutan GBHN.
Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural disekolah Ia adalah pejabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah.

Mengenai model penampilan kepala sekolah digambarkan sebagai berikut :
1.      Kualitas moral pancasila
2.      Kualitas kepribadian
3.      Kualitas kekaryaan
4.      Kualitas hubungan masyarakat dan alam sekitar
5.      Kualitas kesehatan
Beberapa variabel yang menentukan kepemimpinan bangsa Indonesia umumnya dan kepemimpinan pendidikan pada khususnya :
1.      Nilai – nilai idiologi pancasila
2.      Nilai – nilai budaya dan perilaku
3.      Nilai – nilai sejarah
4.      Pengaruh ajaran barat

C.    MEKANISME KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Mekanisme kepemimpinan sangat diperlukan dalam setiap organisasi, mengingat dengan mengetahui mekanismenya kita akan dapat menilai apakah organisasi itu melakukan alih generasi dengan lancer dan baik. Dalam mekanisme kepemimpinan ini kita dapat melihat arah pergantian, kaderisasi dan pembinaan pemimpin – pemimpin organisasi.
DUK (Daftar Urut Kepangkatan) merupakan barometer bagi setiap unit kerja yang menunjukkan adanya kaderisasi kepemimpinan berdasarkan data yang objektif. Tujuan DUK adalah salah satu bahan objektif  untuk melaksanakan pembinaan karier Pegawai Negri Sipil (PNS) berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja.

Tugas pokok badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan adalah :
1.      Badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan tingkat pusat
Memberi pertimbangan kepada pejabat yang berwewenang menetapkan kepangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari jabatan struktural serta pengangkatan dalam pengkatuntuk eselon II yang ada dipusat, wilayah dan daerah. Serta eselon III di pusat dan wilayah.
2.      Badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan daerah
Memberikan pertimbangan kepada pejabat yang berwewenang, menetapkan kepangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari jabatan struktural serta pengangkatan dalam pangkat untuk eselon IV.

PERANAN GURU DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARA

PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN
MEDIA PEMBELAJARAN
DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI
A.  PENGERTIAN MEDIA
Media berasal dari bahaa latin yang mempunyai arti “ANTARA”. Makna tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima. Sejumlah pakar membuat batasan tentang media, salah satunya AECT, menurut AECT media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan menyalurkan pesan atau informasi.
Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa pengertian media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber ke peserta didik yang bertujuan merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

B.  JENIS dan KLASIFIKASI MEDIA
  Jenis media yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran cukup beragam mulai dari media yang sederhana sampai pada media yang cukup rumit dan canggih. Salah satu klasifikasi yang dapat menjadi acuan dalam pemanfaatan media adalah klasifikasi yang dikemukakan oleh Edgar Dale yang dikenal dengan kerucut pengalaman, Dale mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh pesrta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat adstrak. Untuk lebih jelasnya berikut gambar kerucut pengalaman Edgar Dale.
Bentuk klasifikasi yang disusun oleh Heinich ini pada dasarnya adalah  penggolongan media berdasarkan bentuk fisiknya, yaitu apakah media tersebut masuk dalam golongan media yang tidak berproyeksi atau yang berproyeksi, atau apakah media tersebut masuk dalam golongan media yang dapat didengar lewat audio atau dapat dilihat secara visual, dan lain – lain. Berikut susunan klasifikasi menurut Heinich :


KLASIFIKASI
JENIS MEDIA
Media yang tidak diproyeksi (non projected media)
Realita, model, bahan grafis (graphical material), display
Media yang diproyeksi (Projected media)
OHT, Slide, Opaque
Media Audio (Audio)
Audio kaset, audio vision, active audio vission
Media Video ( Video)
Video
Media berbasis komputer (computer based media)
Computer Assisted Instruction (CAI)
Computer Managed Instruction (CMI)
Multimedia kit
Perangkat praktikum

A.  PERAN MEDIA
Dalam proses pembelajaran media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kemp,dkk (1985) menjabarkan sejumlah kontribusi media dalam kegiatan pembelajaran antara lain :
1.      Penyajian materi ajar menjadi lebih standar
2.      Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik
3.      Kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif
4.      Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi
5.      Kualitas belajar dapat ditingkatkan
6.      Pembelajaran dapat disajikan dimana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan
7.      Meningkatkan sifat positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih baik
8.      Memberikan nilai positif bagi pengajar
Heinich et al (1996) melihat kontribusi media dalam peruses pembelajaran secara lebih global ditinjau dari kondisi berlangsungnya proses pembelajaran seperti berikut :
1.      Proses pembelajaran yang bergantung pada kehadiran pengajar
Pada kondisi ini, penggunaan media dalam proses pembelajaran umumnya bersifat sebagai pendukung bagi pengajar.
2.      Proses pembelajaran tanpa kehadiran pengajar
Media dapat digunakan secara efektif pada pendidikan formal dimana pengajar yang tidak dapat hadir karena sesuatu dan lain hal.
3.      Pendidikan jarak jauh
Pendidikan jarak jauh adalah keterpisahan antara pengajar dengan peserta didik dalam proses pembelajaran, peran media dalam pendidikan jarak jauh dapat mengatasi masalah jarak, ruang dan waktu.
4.      Pendidikan khusus
Media sangat penting dalam pembelajaran khusus dimana peserta didiknya adalah yang memiliki keterbatasan kemampuan misalnya ; keterbelakangan mental, tuna netra, atau tuna rungu.

B.  MEDIA YANG TIDAK DIPROYEKSI   
Jenis media yang tergolong dalam media yang tidak berproyeksi yaitu :
1.      Realita adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan ajar. Ciri media realita adalah bendaasli yang masih berada dalam keadaan utuh, dapat dioprasikan, hidup, dalam ukuran sebenarnya dan dapat dikenali sebagaimana wujud aslinya.
2.      Model, menurut Brown model didefinisikan sebagai benda nyata yang dimodifikasi. Menurut Heinich model adalah gambaran yang berbentuk tiga dimensi dari sebuah benda nyata. Prnggunaan model dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mengatasi kendala pengadaan realita.
3.      Bahan Grafis, media grafis mudah digunakan karena tidak membutuhkan peralatan serta relative murah, Brown et al melihat setidaknya ada lima jenis media grafis dalam kegiatan pembelajaran yaitu graft, chart, diagram, kartu, poster. Dan menurut Heinich menyebutkan beberapa media grafis yaitu gambar diam, sketsa, diagram, chart, graft, poster dan kartu.
4.      Papan display, berbagai media yang tidak diproyeksi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran menggunakan tempat untuk mendisplay, banyak pilihan yang digunakan untuk mendispaly yaitu papan tulis (blackboards), Whiteboards, copyboards, dan bulletin boards.

C.  MEDIA YANG DIPROYEKSI
Media yang tergolong media yang diproyeksi antara lain :
1.      OHT, merupakan media yang paling sering digunakan, kerena relative lebih mudah mempersiapkan materi atau pun pengoprasiannya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dibutuhkan alat tulis khusus.
2.      Slide, media slide dapat menampilkan gambar yang sangat realistis. Hal ini disebabkan bahan dasar media slide merupakan film fotografis. Penggunaan slide dalam proses pembelajaran dapat digunakan dengan ataupun tanpa suara.
3.      Media audio, merupakan media yang sangat flesikbel, relative murah, praktis dan ringkas, serta mudah dibawa. Dengan karakteristik yang dimiliki media audio sangat efektif digunakan dalam beberapa bidang studi seperti bahasa, drama, dan seni musik.
4.      Media video, video digunakan pada bidang studi yang banyak mempelajari keterampilan motorik.
5.      Media berbasis computer, media komputer dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran, selain itu komputer juga dapat dimanfaatkan dalam suatu jaringan yang memungkinkan proses belajar menjadi lebih luas.
6.      Multimedia kit, dapat diartikan sebagai paket bahan ajar yang terdiri dari beberapa jenis media yang digunakan untuk menjelaskan sasuatu topic, yang dilengkapi dengan study guide, lembar kerja, dan modul.